Mangupura, Koni Badung- Langkah tegas mulai dilakukan KONI Bali untuk membentengi atlet berprestasi yang ingin pindah atau proses mutasi ke daerah lain.
Meskipun jumlahnya relatif terbatas, tercatat ada sekitar sepuluh atlet yang memilih hengkang ke daerah lain, dengan Jawa Barat sebagai tujuan utama.
Menariknya, sebagian besar dari mereka adalah atlet nonprestasi yang pindah karena alasan pendidikan atau mengikuti orang tua yang bertugas di luar daerah.
Ketua Bidang Hukum dan Etika KONI Bali, Fredrik Billy, menegaskan bahwa seluruh proses perpindahan atlet harus tetap berjalan sesuai koridor administrasi yang berlaku.
Mulai dari surat permohonan, rekomendasi daerah asal, hingga persetujuan dari daerah tujuan menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.
Menurutnya, untuk golongan atlet nonprestasi, perpindahan ini tidak menjadi masalah besar.
Sebagian besar kasus terjadi karena faktor akademis atau kepindahan orang tua.
“Mayoritas karena sekolah atau ikut orang tua dinas. Itu wajar dan tidak ada kendala berarti,” ungkapnya saat ditemui di Denpasar, Kamis lalu (2/4).
Namun, aturan main yang berbeda berlaku bagi atlet yang memiliki prestasi atau pernah menyumbang medali.
KONI Bali tegas mewajibkan mereka untuk melakukan koordinasi khusus sekaligus membayar biaya kompensasi.
Hal ini sebagai bentuk penghargaan atas investasi dan biaya pembinaan yang telah dikeluarkan pemerintah daerah selama ini.
“Kalau atlet berprestasi harus dikoordinasikan. Ada kompensasi yang wajib dipenuhi,” tegasnya.
Sebagai contoh, Billy menyebut kasus atlet paramotor yang pindah ke Sulawesi Tengah karena mengikuti orang tua yang berdinas di TNI.
Meskipun alasan pindah wajar dan sudah mendapat restu daerah tujuan, atlet tersebut tetap dikenakan biaya penggantian pembinaan karena pernah mengharumkan nama Bali.
Besaran biaya yang harus dibayarkan pun beragam, disesuaikan dengan level prestasi yang pernah diraih.
Untuk skala internasional seperti juara SEA Games, nilainya bisa mencapai Rp300 juta. (RB)
